Senin, 29 September 2014


Pelangi Kelabu

Kutatap warna pelangi di atas awan itu. Berjiwa terang penuh dengan warna dan  senja disampingnya. Matahari semakin tenggelam. Tapi pelangi itu bersinar tanpa beban, tanpa warna kelabu di sampingya. Tapi mungkin, warna kelabu selalu identik dengan perasaan dan suasana hati kelam dan gelap. Warna yang tidak lain hanyalah segumpal kekosongan belaka, tidak indah dipandang dan sulit digapai. Kelabu hanyalah menggambarkan ‘’Aku’’ Wanita yang penuh dengan kehidupan yang kelam dan gelap tanpa warna terang disampingku. Tapi pelangi penuh warna adalah ‘’Kamu’’, Pria yang kutunggu. Sosok Kelabu itu kusebut  ‘’ Pelangi Kelabu’’
Warnamu menyinari langit, tapi kelabuku menutupi diriku seolah menyimpan ketakutan akan kegelapan yang kelam atas kisahku denganmu. Mungkin kelabu ini akan terus berubah menjadi hitam, menutupi semua kenangan yang pernah kita ukir dan kita jalani. Saat pelangi baru mulai menunjukan warnanya, warna terangku semakin memudar dan terus memudar. Bahkan sampai akhirnya hilang dan berubah menjadi kelabu. Angin terus menghapus warna terangku, warna merah muda terus memudar.
Garis melengkung itu dahulu selalu menjadi harapan yang selalu kita kirim padanya, tapi mungkin awan merubahnya menjadi garis lurus yang biasa dan datar. Garis itu kini hanya menjadi angan yang tak akan pernah bisa aku gapai. Kelabuku semakin menutupi semuanya, menutupi kamu yang dahulu menjadi pelangi warna hidupku. Kamu enggan menghapus kelabu ini. untuk merabanya akan membutuhkan waktu yang lama. Waktu mencoba memulihkan semua rasa sakit yang telah kamu berikan kepadaku saat kemarin, kemarin, dah sekarang.
Maafkan aku, Warnamu selalu membuat mataku memutar kembali apa yang pernah kita jalani, memutar apa yang pernah kita lewati bersama, memutar apa yang pernah kita gapai, memutar apa yang pernah kita ucapkan bersama untuk doamu dan doaku. Pelangi ini akan menjadi kelabu, semakin kamu jauh semakin kelabu, semakin kamu berlari semakin hitam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar