Dia pergi
Lucu rasanya melihat apa yang
telah terjadi pada kisah cintaku di umur 16 ini. Aku dan kamu pernah menjalin
satu hubungan yang pasti, tidak tergantung namun terkesan asing. Aku dan kamu berpacaran,
seperti halnya remaja lainnya. Tapi aku dan kamu berakhir tanpa kejelasan yang
pasti. Kamu yang berawal selalu mencitaiku dengan sepenuh hati kini berbalik
sangat jauh dengan apa yang kita jalani sekarang ini. Iya menjauh, aku dan kamu
saling menjauh saat ini, berjalan dengan kaki masing-masing mulai meninggalkan
semua kenangan yang pernah kita lalui. Kamu berjalan kea rah yang berbeda
dengan aku, kamu terus berjalan dan tak pernah menengok ke belakang, meskipun
dibelakangmu aku selalu menunggumu untuk kembali. Meski aku lelah mengira kamu
masih mencintaiku apa tidak, tapi aku selalu menunggumu. Meski aku memang bukan
yang terbaik untukmu, tapi aku selalu menunggumu. Disini. . .
Ketika kamu pergi, bahkan ingin
rasanya kutanya kembali apa kamu benar-benar ingin pergi meninggalkan ini
semua. Sebelum kamu benar-benar pergi, apa masih ada aku di hati kamu? Tersisa
kah aku dihatimu saat itu sampai saat ini? Kesan begitu terukir ketika kita
bersama. Tapi, saat kamu rapuh dan tak punya siapa siapa lagi, kamu butuhkan
pundaku dan tanganku untuk menggenggammu saat itu. kamu butuh motivator dan
semangat hidup.
Waktu terus berjalan,
meninggalkan waktu dulu dan menggatinya dengan waktu baru. Kini kita tak lagi
menyapa, biarlah hanya dari kejauhan. Melihatmu tersenyum walau tak pernah
terbalas, bahagiaku . . . bahagiamu juga. Tetapi aku berpikir betapa lucunya
kita ini, Dahulu saat kita bertemu dan saling bertatapan muka kita saling
tersenyum, menyapa, lalu berbicara berjam-jam membahas semua kejadian hidup
yang pernah kita alami. Sekarang kita bertemu bertingkah seperti orang asing
bahkan selayaknya seperti kita tidak saling mengenal, aku tidak mengetahui
semua tentang kamu, bahkan kamu pun begitu.
Biarlah rasa ini memudar dengan
sendirinya, dengan amarah yang telah aku ciptakan menjadi sebuah kebencian saat
ini. Meski sakit, perih, bahkan menyiksa aku akan berhenti untuk menangis
untuknya saat ini.
Tapi aku bahkan tidak sanggup
melakukan itu semua . . .
Sakit rasanya mendengar bahwa
bukan aku yang kamu butuhkan, aku mulai menjaga jarak. Itu penting, agar aku
bisa melupakannya. Tapi semuanya sia sia. Keadaan merubahku dan membuatku
semakin rumit, aku tidak menginginkan sebuah perpisahan, aku hanya ingin kamu
kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar