Senin, 29 September 2014


Dia pergi

Lucu rasanya melihat apa yang telah terjadi pada kisah cintaku di umur 16 ini. Aku dan kamu pernah menjalin satu hubungan yang pasti, tidak tergantung namun terkesan asing. Aku dan kamu berpacaran, seperti halnya remaja lainnya. Tapi aku dan kamu berakhir tanpa kejelasan yang pasti. Kamu yang berawal selalu mencitaiku dengan sepenuh hati kini berbalik sangat jauh dengan apa yang kita jalani sekarang ini. Iya menjauh, aku dan kamu saling menjauh saat ini, berjalan dengan kaki masing-masing mulai meninggalkan semua kenangan yang pernah kita lalui. Kamu berjalan kea rah yang berbeda dengan aku, kamu terus berjalan dan tak pernah menengok ke belakang, meskipun dibelakangmu aku selalu menunggumu untuk kembali. Meski aku lelah mengira kamu masih mencintaiku apa tidak, tapi aku selalu menunggumu. Meski aku memang bukan yang terbaik untukmu, tapi aku selalu menunggumu. Disini. . .
Ketika kamu pergi, bahkan ingin rasanya kutanya kembali apa kamu benar-benar ingin pergi meninggalkan ini semua. Sebelum kamu benar-benar pergi, apa masih ada aku di hati kamu? Tersisa kah aku dihatimu saat itu sampai saat ini? Kesan begitu terukir ketika kita bersama. Tapi, saat kamu rapuh dan tak punya siapa siapa lagi, kamu butuhkan pundaku dan tanganku untuk menggenggammu saat itu. kamu butuh motivator dan semangat hidup.
Waktu terus berjalan, meninggalkan waktu dulu dan menggatinya dengan waktu baru. Kini kita tak lagi menyapa, biarlah hanya dari kejauhan. Melihatmu tersenyum walau tak pernah terbalas, bahagiaku . . . bahagiamu juga. Tetapi aku berpikir betapa lucunya kita ini, Dahulu saat kita bertemu dan saling bertatapan muka kita saling tersenyum, menyapa, lalu berbicara berjam-jam membahas semua kejadian hidup yang pernah kita alami. Sekarang kita bertemu bertingkah seperti orang asing bahkan selayaknya seperti kita tidak saling mengenal, aku tidak mengetahui semua tentang kamu, bahkan kamu pun begitu.
Biarlah rasa ini memudar dengan sendirinya, dengan amarah yang telah aku ciptakan menjadi sebuah kebencian saat ini. Meski sakit, perih, bahkan menyiksa aku akan berhenti untuk menangis untuknya saat ini.
Tapi aku bahkan tidak sanggup melakukan itu semua . . .
Sakit rasanya mendengar bahwa bukan aku yang kamu butuhkan, aku mulai menjaga jarak. Itu penting, agar aku bisa melupakannya. Tapi semuanya sia sia. Keadaan merubahku dan membuatku semakin rumit, aku tidak menginginkan sebuah perpisahan, aku hanya ingin kamu kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar