Senin, 29 September 2014


Indah dan Rasakan

Terkadang dunia selalu punya cara sendiri untuk membuat semuanya lebih indah. Meski harus melewati banyak rintangan dan hadangan yang terjal. Hidup ini terlalu singkat, iya. jika hanya digunakan untuk menyakiti orang lain. Membuat permasalahan yang tidak penting. Tapi inilah hidup, penuh kerikil yang kadang membuat kita aral untuk menjalaninya. Dulu, aku menemukan orang yang bisa membuat semangatku kembali, sekarang? Semangat itu bagai air meresap di tanah. Semakin lama semakin tidak ada. Redup dan tidak penuh warna. Kamu yang dulu selalu menemani hari-hariku kini menghilang bagai ditelan dunia. Kamu meninggalkanku terlalu cepat dan terlalu singkat membuat cerita indah. Kenangan terus mengalir di pikiranku, teringat saat kita selalu bersama. Dalam keadaan apapun kita selalu membuat dunia lebih berwarna dan berisi. Entah apa yang ada dibenakmu saat itu, sampai bisa berpaling dariku dalam waktu yang singkat. Kamu yang sekarang bersanding dengan dia mungkin sudah terlalu jauh dan terlalu dalam. Sedangkan aku, aku yang diam ditempat dan tak punya arah. Takut untuk melangkah dan memulai yang baru, bahkan untuk bangkit pun rasanya aku tidak bisa. Gerakanku semakin kaku dan mati rasa. Rasanya ingin kuhentikan denyut nadi di lenganku. Aku semakin jauh dari pandanganmu, semakin tak bisa melihatmu. Ini semua membuatku buta dan tak mendengar. Terlempar dari sebuah kenyataan yang sama sekali takku harapkan adanya. Tapi semuanya harus aku terima dan kujalani.  berdirilah dan rasakan apa yang aku alami selama ini, selama aku selalu berdiri tepat dibelakangmu.  Kamu bahkan tak ingin untuk menengok ke arahku  dan lebih memilih berlari dengan dia. Sakit yang kurasakan sama sekali tidak penting, tapi waktu di saat kamu pergi dan menghilang. Itulah yang  sangat kusesali hingga saat ini. Aku mencoba untuk terus melupakanmu, tapi semuanya gagal dan sia-sia. Aku semakin terpuruk dan hampir tak sadarkan diri saat mengingatmu dan melihatmu bersamanya. Begitu sakit, sampai senyuman pun akan tenggelam saat harus menahan air mata yang deras ini memenuhi kelopak mataku. Pucat wajahku, dingin jariku, kaku rasa ini. Apa kamu bisa merasakannya? Tidak sama sekali. Kamu bahkan tidak perasa.
Dahulu kamu merangkulku dan menggengamku dengan apapun keadaanya, detik terakhir kuingat kamu masih bisa bersandar di pundakku. Kumohon padamu, rasakan apa yang aku rasakan saat itu. resapilah, aku bahkan tak sanggup memikul beban batin yang berat ini. Semuanya menyakitkan, kamu pergi dan bahagia bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar