Senin, 29 September 2014

Bisakah sebaik Panda?



Aku tidak pernah berpikir tentang kehidupan lainnya, entah itu disebut reinkarnasi atau apapun. Aku percaya apa yang aku ingin percaya, yaitu kehidupan kekal bersama sang pencipta. Namun sejak bersamamu, pria yang kuanggap cinta pertamaku, yang juga memeluk kepercayaan yang berbeda denganku, beberapa kali aku berandai-andai mengenai kehidupan lain itu. Di kehidupan ini, kita telah mencoba terlalu sering untuk menyatukan perbedaan keyakinan itu namun tidak pernah berhasil, tidak satu kalipun. Aku tetap dengan pendirianku, kau juga. Kita berdiri sangat teguh tak tergoyahkan. Hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan cinta yang kita miliki, ya Cinta dan Agama, keduanya abstrak namun keduanya absolut, keduanya tidak bisa dipaksakan karena lahir dari hati, hakiki dan tidak bisa di ganggu gugat, tidak nyata tetapi begitu mengikat.
Hari ini aku menatapmu, dengan pedih dan air mata terbendung di kelopak mataku. Aku berkata dalam hatiku “jika ada kehidupan lain, aku ingin selalu berada di sisimu”.
Menjadi sepasang panda? aku tidak perduli. Aku ingin bersamamu, bahkan lebih baik karena panda tidak punya agama. Tersenyum getir dan air mataku mulai menetes. Jalan menuju kehidupan lain itu masih panjang, namun nasib hubungan kita sebentar lagi akan mendapat jawabannya. Karena pada akhirnya yang mampu aku katakan hanyalah “jika, jika, jika, jika, jika ada kehidupan lain” yang bahkan aku sendiri tidak mempercayainya itu ada. “Jika” itu tidak akan pernah ada bagiku, adalah sebuah kata-kata keputus asaan yang terlontar karena dilema yang terus membelengguku. Sebuah angan-angan yang semu, penghibur lara ketika berhadapan dengan realita yang bertolak belakang. Maafkan aku, sayangku. Aku terlalu mencintaimu sehingga aku menginginkan keberadaan dunia lain itu, tapi aku juga terlalu mencintai Tuhanku untuk kembali memupuskan impian itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar