Bisakah sebaik Panda?
Aku
tidak pernah berpikir tentang kehidupan lainnya, entah itu disebut reinkarnasi
atau apapun. Aku percaya apa yang aku ingin percaya, yaitu kehidupan kekal
bersama sang pencipta. Namun sejak bersamamu, pria yang kuanggap cinta
pertamaku, yang juga memeluk kepercayaan yang berbeda denganku, beberapa kali
aku berandai-andai mengenai kehidupan lain itu. Di kehidupan ini, kita telah
mencoba terlalu sering untuk menyatukan perbedaan keyakinan itu namun tidak
pernah berhasil, tidak satu kalipun. Aku tetap dengan pendirianku, kau juga.
Kita berdiri sangat teguh tak tergoyahkan. Hal itu sama sekali tidak ada
hubungannya dengan cinta yang kita miliki, ya Cinta dan Agama, keduanya abstrak
namun keduanya absolut, keduanya tidak bisa dipaksakan karena lahir dari hati,
hakiki dan tidak bisa di ganggu gugat, tidak nyata tetapi begitu mengikat.
Hari
ini aku menatapmu, dengan pedih dan air mata terbendung di kelopak mataku. Aku
berkata dalam hatiku “jika ada kehidupan lain, aku ingin selalu berada di
sisimu”.
Menjadi
sepasang panda? aku tidak perduli. Aku ingin bersamamu, bahkan lebih baik
karena panda tidak punya agama. Tersenyum getir dan air mataku mulai menetes.
Jalan menuju kehidupan lain itu masih panjang, namun nasib hubungan kita
sebentar lagi akan mendapat jawabannya. Karena pada akhirnya yang mampu aku
katakan hanyalah “jika, jika, jika, jika, jika ada kehidupan lain” yang bahkan
aku sendiri tidak mempercayainya itu ada. “Jika” itu tidak akan pernah ada
bagiku, adalah sebuah kata-kata keputus asaan yang terlontar karena dilema yang
terus membelengguku. Sebuah angan-angan yang semu, penghibur lara ketika
berhadapan dengan realita yang bertolak belakang. Maafkan aku, sayangku. Aku
terlalu mencintaimu sehingga aku menginginkan keberadaan dunia lain itu, tapi
aku juga terlalu mencintai Tuhanku untuk kembali memupuskan impian itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar